Perempuan, Perempuan Muslimah, dan Perempuan KAMMI

Perempuan, Perempuan Muslimah, dan Perempuan KAMMI

Bismillahirrahmanirrahim. In the name of Allah, the Most Merciful, the Most Beneficent.Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kenapa saya ulangi sampai tiga kali? Tenang saja, bukan dengan alasan yang rumit dan panjang. Juga bukan karena alasan ingin seperti tausiyah broadcast pagi yang sering kita terima. Saya hanya sedang lumayan takut memulai tulisan tentang makhluk yang konon ‘selalu benar’. Jadi, mari berbicara tentang, ya perempuan.

Di sela-sela kebosanan saya menulis tugas akhir, saya biasa menulis sesuatu yang sedang, kemarin, atau sudah lama ada di otak saya. Namun begitulah namanya manusia yang sedang belajar menulis. Ritual kebatinan lebih sering ia lakukan. Ia betah sekali lama berada di pikiran, diam menyendiri di sudut hati, tak bergerak meski berputar hingga lelah mengejar untuk dituliskan. Biasanya tulisan tentang sesuatu yang saya alami sendiri atau hasil perenungan atas dialog bersama kawan. Bisa juga dari sekelebat pikiran saat makan sarapan pagi sendiri di tengah gerimis, maklum kota malang sedang romantis, hampir siang, sore, malam hujan.

Perkenalkan, saya adalah seorang perempuan biasa. Baru saja dilantik sebagai Ketua Bidang Perempuan Pengurus Daerah KAMMI Malang, sepekan sebelum Muktamar KAMMI ke X di Medan lalu. Dari Komisariat Brawijaya, lalu sempat di Kebijakan Publik Pengurus Daerah periode yang lalu, aktif di Intruktur dan Pemandu membuat jalan pikiran saya menemui rambu lalu lintas ‘tanya’ yang cukup banyak. Di tulisan ini saya ingin sedikit berbagi atas hal-hal yang saya cari dan beberapa sudah saya temukan. Tentu saja tentang perempuan.

Menjadi bagian dari gerakan di tahun ini rasanya memang berat. Kata banyak orang adalah ‘tahun politik’. Diartikan dengan hadirnya momentum politik yang cukup banyak dua tahun ke depan. Bagaimana KAMMI akan berdiri, berposisi, berekspresi, dan bergerak atas momentum tersebut? Bagi saya pribadi, itu berat atau sekaligus sebuah tantangan organisasi.

Jika dahulu KAMMI lahir atas kegelisahan masyarakat yang mana KAMMI merupakan entitas terkecil dari masyarakat itu sendiri, hingga akhirnya berdiri bersama menumbangkan pemerintahan tirani. Maka ujian saat ini adalah bagaimana di momen politik ini, KAMMI hadir dengan menyadari sepenuhnya bahwa ia ada, berdiri, dan bergerak sebab dan oleh entitas itu sendiri. KAMMI bukan terpisah darinya, namun bersama mereka menjadi entitas itu.

Apa yang masyarakat pikir adalah apa yang seharusnya KAMMI pikir. Apa yang masyarakat sakit sebab hal itu, KAMMI pun seharusnya sakit sebab hal itu. KAMMI tak hanya tertitipi dan dititipi oleh sesuatu yang terkadang sifatnya praktis nan jauh dari kaki rakyat. Namun gerakan ini berawal dari kepedihan rakyat yang bersama oleh rakyat pula berusaha diselesaikan bersama. Jika menurut Jo Han Tann dalam buku Mengorganisir Rakyat: Refleksi Pengalaman Pengorganisasian Rakyat di Asia Tenggara (terbit pertama kali tahun 2003), pengorganisiran rakyat yang sesungguhnya bukanlah hadirnya kita sebagai juru selamat atau pahlawan bagi mereka. Namun bagaimana rakyat menjadi penyelamat bagi diri mereka sendiri. Akhirnya, pertanyaan pertama muncul di benak saya, “Saya, perempuan KAMMI, siapa saya? Mau apa saya?”.

Sebenarnya saya masih belum menemukan jawaban tentang apa yang mau saya lakukan dalam ekspresi sebagai perempuan KAMMI. Tentu saja tidak hanya yang hadir dalam gagasan, namun juga mampu dilakukan. Melakukan sesuatu atas dasar kepedihan pada masalah, bukan ujian eksistensi mewah. Melakukan sesuatu dengan nilai Islam dan tak menyakiti. Melakukan sesuatu yang mereka butuhkan, bukan yang kita terka ini program hebat nan bermanfaat. Melakukan sesuatu dengan niat ibadah bukan ingin semata diliput media. Ternyata cukup sulit mencipta jalan senyap yang dirindukan itu; gerakan perempuan.

Perempuan, Perempuan Muslimah, dan Perempuan KAMMI.

Saya percaya bahwa seseorang atau sekelompok orang tidak akan pernah bisa membicarakan sesuatu lebih jauh jika ia belum selesai dalam hal definisi. Kita semua mengetahui bahwa di era digital ini, banyak sekali orang menafsirkan sesuatu hanya semudah dengan apa ‘yang dia pikir’ dipengaruhi oleh lingkungan realitas dan dunia maya sehari-hari. Sebab tak jarang, substansi hilang dari definisi sebenarnya terhadap suatu hal. Membuat sesuatu yang mulanya terang menjadi temaram, yang mulanya jelas menjadi samar.

Perempuan. Ia adalah satu jenis makhluk yang berlawanan dengan jenis yang lain; laki-laki. Berlawanan bukan berarti semuanya berbeda. Namun fungsi fisiklah yang mendefinisikan perbedaan itu. Menurut seorang lawyer perempuan asal Ghana begini:

“We can do so much, but we must do it as women. Not as imitations of men. Women are playing a big role in development because they bring an extra ingredient of Feminity”.

“Kita bisa melakukan banyak hal, tapi kita harus melakukannya sebagai perempuan. Bukan sebagai tiruan dari laki-laki. Perempuan sangat berperan besar dalam pembangunan karena ia membawa komposisi lebih dalam hal feminitas”.

Dari apa yang disampaikan oleh Madame Annie itu, saya menyimpulkan bahwa keberadaan perempuan sudah memiliki format tersendiri yang berbeda dari kaum laki-laki. Eksistensi setiap perempuan dalam kehidupan, tak memandang agama, suku, ras, juga profesi, ia memiliki komposisi ‘kewanitaan’ yang tak akan dimiliki oleh lawan jenisnya. Hal itu tentu menentukan ekspresi yang akan mempengaruhinya dalam menilai, menyampaikan, dan menyelesaikan sesuatu. Bukan atas dasar gerak kebencian yang bermula dari treatment lawan jenis terhadapnya, sehingga mewujudkan ekspresi ‘linglung kebebasan’ seperti kaum feminis saat ini.

Selanjutnya, Perempuan Muslimah. Sebuah subjek yang akhir-akhir ini ramai muncul di halaman media sosial, berita hiburan, hingga kolom koran netizen seantaro Indonesia. Di tahun 1980-an seorang muslimah yang berjilbab, terkena diskriminasi keras, mati terbunuh di selokan depan rumahnya sendiri misalnya. Ceita yang saya dapat dari seorang dosen ITN Malang alumni ITB, muslimah berjjilbab yang dibunuh itu adalah sahabatnya. Kondisi tersebut tentu sangat berbeda dengan apa yang terjadi saat ini.

Sekarang mengenakan jilbab tak lagi berisiko nyawa hilang sebab terancam dikucilkan atau sampai dibunuh. Risiko hari ini, paling mendapat ‘pujian’ sebagai gadis suci yang telah berhijrah di hadapan manusia lainnya. ‘Anggapan’ telah selamat dari jilatan api neraka, ‘terlihat’ lebih cantik dari biasanya, hingga jika beruntung mendapat jodoh idaman pria masjid mania.

Buya Hamka dalam bukunya yang berjudul Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan, menuliskan bahwa diri manusia pada hakikatnya ialah satu, kemudian dibagi menjadi dua. Satu menjadi bagian laki-laki dan yang satu lagi menjadi bagian perempuan. Dalam buku tersebut Buya Hamka membuka dengan tafsir surat An-Nisa ayat 1 yang menceritakan tentang kesatuan asal dari laki-laki dan perempuan serta At-Taubah ayat 71-72 yang menceritakan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam Islam.

Dua ayat itu, didampingi oleh beberapa ayat yang lain, memberikan jaminan dan kedudukan yang sama di hadapan Allah antara Mukmin laki-laki dan Mukmin perempuan. Dalam ayat-ayat tersebut pula dapat dilihat bahwa kedudukan perempuan mendapat jaminan yang tinggi dan mulia. Terang dan nyata kesamaan tugasnya dengan laki-laki. Sama-sama memikul kewajiban dan sama-sama mendapat hak. Pahit dan manis beragama sama-sama ditanggung.

Lebih jelas lagi bahwa dalam beberapa hal bukan saja laki-laki yang memimpin perempuan, bahkan perempuan memimpin laki-laki. Ba’dhuhum auliyaa’u ba’dhin, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Penolong dalam misi bersama yang sangat berat, yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Mereka sama-sama berkewajiban sholat, sedekah, zakat, menjaga mutu masyarakat dari kerusakan moral, baik dalam rumah tangga maupun dalam masyarakat.

Sehingga kehadiran kita dalam organisasi bukanlah sebagai ekor yang selalu siap mengikuti kemanapun kepala akan melabuhkan taringnya pada mangsa. Namun kita juga merupakan kepala, badan, dan taring bagi organisasi ini. Contoh konkretnya, apabila dalam sebuah syuromaka siapkan apa-apa saja yang menurut kita sebagai perempuan itu perlu diutarakan sebab hal tersebut adalah kebutuhan diri sendiri sekaligus kebutuhan perempuan lain di samping maupun di belakang kita. Tenanglah, pemimpin laki-laki yang baik adalah mereka yang juga senantiasa bersama belajar dalam memahami kebutuhan anggotanya, termasuk perempuannya. Sebab, salah satu indikator dalam melihat kualitas baik tidaknya organisasi dapat dilihat dari bagaimana ia ‘memperlakukan’ anggota perempuannya.

Jika kita lihat, tokoh besar, pemikir besar di dunia adalah ia yang juga menempatkan bidang perempuan menjadi sebuah urgensi gerakan yang perlu hadir dalam sebuah komunitas atau jamaah. Contohnya, Buya Hamka dengan buku yang saya sebutkan di atas, Soekarno dengan buku Sarinah, juga pakar parenting Islam di Indonesia Cahyadi Takariawan menulis buku Keakhwatan empat jilid.

Bahkan pemimpin gerakan Islam fenomenal Hassan al-Banna membentuk sebuah biro khusus muslimah Ikhwanul Muslimin (IM) dengan latar belakang keprihatinan pada kasus perkosaan, KDRT, dan cacat moral anak bangsa Mesir saat itu. Biro tersebut memunculkan tokoh wanita bernama Zainab al-Ghazali yang menuliskan sebuah buku perjalanannya selama beraktivitas di IM, dengan judul Perjuangan Wanita Ikhwanul Muslimin (1990). Buku tersebut bercerita mulai dari proses ajakan Hassan al-Banna untuk berbai’at dalam jamaah, persaksiannya dalam melihat kematian saudara-saudara seperjuangannya di tiang gantungan, hingga pengalamannya saat disiksa di penjara Al-Qanathir.

Dari Zainab al-Ghazali saya belajar bahwa perempuan dalam sebuah pergerakan tak akan pernah merasa selesai dengan apa yang coba ia selesaikan di dalam rumah. Ia tidak hanya menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Ia adalah ibu bagi semua anak-anak di sekitarnya. Ia adalah sahabat bagi ibu-ibu lain di sekitarnya. Ia selalu mencoba menjadi cahaya bagi siapapun yang tersandung sebab gelap jalan yang dilalui orang di sekitarnya. Ia sedikit mencari sesuatu untuk dirinya, sebab ia percaya memberi adalah menabung untuk dirinya sendiri.

Perempuan Muslimah dalam sebuah pergerakan, merupakan sebuah peran sungguh berat juga mulia. Ia adalah peran yang hanya akan bisa dinikmati dalam titik ketakwaan dirinya pada Sang Pencipta, Allah ‘azza wa jalla. Ia akan bersiap jauh dari harta, kesenangan dunia, bahkan bisa jadi keluarga akan menjadi titipan abadi pada Yang Kuasa. Sebab waktu yang dimiliki akan banyak diminta oleh apa yang ada di luar rumahnya. Raga, jiwa, pikiran, adalah investasi sementara yang dititipkan Allah untuk menjadi alasan terbaik menuju akhirat yang kekal. Ingat bukan semata-mata laki-laki shalih yang akan membawa ke jalan lurus hingga tujuan surga. Diri, mimpi, azzam, dan tawakkal sebagai pribadi perempuan Muslimah juga utama.

Perempuan KAMMI. Dengan analogi lapisan bumi, saya akan menyampaikan bagaimana kedudukan kita dalam eksistensi di kehidupan gerakan ini. Dalam pelajaran Geografi sekolah menengah saya mempelajari bahwa bumi memiliki beberapa lapisan, dari inti hingga kerak bumi. Maka begitu pula dengan perempuan, ia memiliki lingkaran sosial yang sudah terbentuk sebelumnya hingga akhirnya ia menemukan lagi lingkaran sosialnya yang baru. Keberadaannya dalam lingkaran sosial yang baru sejatinya tak boleh melepaskan diri dari lingkaran sosial yang telah terbentuk sebelumnya.

Lapisan pertama adalah inti dalam (inner core), maka ia adalah peran kita sebagai hamba atau muslimah. Inti adalah pemompa energi bagi lapisan-lapisan di luarnya. Bahkan sebelum kita lahir ke muka bumi, kita sudah berjanji kepada Allah akan status kehambaan ini. Amal ruhiyah, pembangunan connectivity kita dengan Allah. Menjaga erat jabat tangan bantuan Allah pada diri kita. Sebab jika ia tak ada maka eksistensi lapisan yang lain pun seakan tak berdaya; semu.

Lapisan selanjutnya adalah inti luar (outter core). Lapisan ini merepresentasikan peran Muslimah sebagai anggota dan bagian dari keluarga. Ia dimulai sejak adzan diperdengarkan di telinga oleh ayah atau kerabat saat kita dilahirkan. Lahir dengan lingkaran sosial keluarga yang kita miliki merupakan inti kedua dalam sebuah peran perempuan KAMMI. Kehadirannya sebagai anak/kakak/adik/sepupu/ponakan/istri merupakan misi tersendiri dengan seni kebermanfaatan yang khas ala perempuan. Hassan al-Banna menyusun maratibul amal, keluarga berada di posisi kedua, sungguh mulia prioritasnya.

Lapisan selanjutnya adalah mantel bumi. Ia penghangat bagi lingkaran sosial yang sebenarnya, yaitu menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Bertetangga entah di kampung halaman atau di perantauan. Tetangga rumah, tetangga kosan, ataupun tetangga kamar kita memiliki kewajiban dalam mengekspresikan nilai-nilai sejuk Islam pada lingkaran sosial ini. Membaca, melihat, membantu yang diperlukan oleh yang membutuhkan. Mastatho’tum kata Rasulullah; semampu kita.

Terakhir, lingkaran sosial terluar kita saat ini adalah Perempuan KAMMI. Berdiri pada posisi ini tentu menuntut untuk siap disinggahi oleh banyak hal. Lapisan-lapisan yang ada di bawah sebelum ini merupakan latar belakang setiap geraknya. Sedikit saja mencoba untuk bermanfaat bagi lingkaran sosial yang kita miliki adalah ekspresi terbaik yang bisa kita upayakan. Cukuplah untuk selalu menjadi pembelajar. Belajar, belajar, dan belajar. Sebab kita tak akan pernah pandai, kata Rusdi Mathari dalam bukunya, Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Kebermanfaatan? Biarlah yang merasa yang menilai, bukan kita, buka diri kita sendiri. Biarkan yang melihat dan merasa, berbicara. Sebab seringkali justru kita yang banyak belajar dari masayarakat, alih-alih mereka ingin belajar sesuatu dari kita.

Tulisan ini muncul, terbit, dan mungkin tersebar bersamaan juga dengan tanda bahwa saya tidak ada apa-apanya. Keinginan untuk belajar, berdiskusi dengan kawan-kawan perempuan KAMMI yang lain sangat dinanti. Saya tutup dengan penggalan surat At-Taubah ayat 71 yang sudah saya kutip juga di atas. Ba’dhuhum auliyaa’u ba’dhin, sebagian mereka, menjadi penolong bagi sebagian yang lain. []

Malang, 28-29 Januari 2018

Leave a Reply

Close Menu