JAKARTA--Situasi negeri yang tengah berkecamuk, tak menyurutkan rakyat khususunya kaum mudanya untuk terus belajar, mencari ilmu untuk menjadi bangsa yang cerdas. Ini ditegaskan Mohamad Al-Shaikh Salem, dari Palestina, salah seorang peserta The 3rd International Youth Gathering pada Republika usai rombongan peserta diterima Menpora Andi Mallarangeng di Kantor Menpora Jakarta, (20/1).
''Kami bertekad untuk menjadi bangsa yang cerdas. Jadi dalam situasi perang yang serba sulit dan penuh dengan keterbatasan, kami semua kaum muda Palestina tetap berupaya untuk terus bisa belajar dan mendapatkan akses pendidikan,'' tegas Salem.
Kondisi Di Palestina sendiri menurut Salem, sangat carut marut. ''Setidaknya ada enam juta penduduk kami menjadi pengungsi dan tiga juta lagi berada di Palestina dan tak memiliki akses untuk keluar dari Palestina. Israel pun melarang kami untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Kami belajar dengan cara sembunyi-sembunyi. Namun apapun itu. tekad kami tak pernah surut,'' tegas Salem.
Dikisahkan Salem bahwa untuk di tingkat pendidikan dasar dan menengah, sangat sulit untuk bisa mengakses pendidikan di tengah situasi yang sulit tersebut. ''Namun kami sadar bahwa kami tak bisa terus begini. Karenanya banyak pemuda-pemuda kami yang kemudian pergi ke luar negeri untuk menuntut ilmu. Banyak dari kami yang sudah meraih gelar Doktor, Insinyur dan lain-lain,'' tegas Salem.
''Kami sadar dan bertekad untuk membangun abngsa kami ke depan. Hanya saja tekad kami yang semula menimba ilmu di luar negeri ini, untuk kembali dan membangun Palestina, dihalang-halangi oleh tentara Israel. Kami yang sudah berhasil meraih gelar, sulit untuk bisa masuk lagi ke Palestina,'' tandas Salem yang merupakan satu-satunya utusan dari Palestina.
Dikatakan Salem bahwa dirinya banyak mendapat support atau dukungan dari peserta lain yang berasal dari 16 negara Muslim. ''Dukungan yang kami dapatkan semakin membulatkan tekad kami untuk terus melakukan perjuangan,'' tegas Salem. Ia juga mengaku banyak yang bisa dipelajari dari pertemuan pemuda Muslim se-dunia itu dan bisa menjadi bekal untuk dibawa ke Palestina.