KAMMI Online

Thursday, 18 March 2010

28 August 2009

Islam dan Terorisme di Indonesia

Islam adalah agama yang cinta perdamaian, tetapi akhir-akhir ini Islam diidentikan terorisme dan kekerasan. Hal ini menjadi tantangan para ulama di Indonesia menghadapi gerakan terorisme bukan hanya untuk mengembalikan citra islam yang diidentikkan dengan kekerasan, tapi juga bagaimana mengurangi aksi-aksi kekerasan. Mengingat terorisme adalah dampak dari kekeliruan memahami teks-teks agama disertai konteks kebijakan global negara-negara barat yang tidak adil, maka program melawan kekerasan itu tidak hanya diarahkan pada pelurusan terhadap paham keagamaan kaum muslim, tetapi juga harus berupaya menciptakan tatanan global yang adil.

Genderang perang melawan kekerasan sampai pada titik tertentu menjadikan Islam sebagai pusat perhatian masyarakat international. Hal ini disebabkan dua hal yaitu: kekerasan membuat masyarakat dihantui rasa takut dan agama Islam dijadikan pembenar atas aksi-aksi kekerasan. Tentu pandangan ini menyebabkan masyarakat barat menganggap Islam mengajarkan kekerasan dan terorisme. Tentu pandangan masyarakat barat ini membuat "sakit hati" kaum muslim. Padahal Islam mengajarkan sikap sopan santun dan berbuat baik pada semua seorang, kecuali yang memusuhi agama Islam. Mayoritas masyarakat muslim Indonesia ramah, dan santun. Makanya di masa lalu Islam masuk Indonesia dengan jalan yang damai, tidak masuk dengan jalan peperangan seperti di tempat lain di dunia.

Makanya sangat lucu kalau Islam diidentikkan dengan kekerasan dan terorisme. Apalagi kalau itu dikaitkan dengan keadaan umat Islam Indonesia yang sangat ramah dan santun. Jelas tuduhan bahwa Islam adalah agama yang keras dan identik dengan terorisme tidak berdasar. Mungkin hanya karena ulah sekelompok oknum tertentu yang menamakan gerakan Islam yang radikal, maka Islam dikatakan teroris. Sungguh kesimpulan yang tidak berdasar dan hanya sebuah rekayasa wacana yang sangat mendiskreditkan Islam itu sendiri.

Mestinya kalangan pelaku teror menganggap bahwa jalan kekerasan merupakan pilihan melawan ketidakadilan barat atas kaum muslim, namun menurut Syafii Maarif radikalisme umumnya berakhir dengan malapetaka dan bunuh diri. Sebab, prinsip kearifan dan lapang dada yang diajarkan agama tidak lagi dihiraukan dalam mengatur langkah dan strategi. Sejarah perjuangan Rasul yang pahit dan getir, tapi ditempuh dengan ketabahan, seharusnya menginsafkan umat Islam bahwa cara-cara radikal-emosional akan membawa kita kepada kegagalan dan kesalahan.

Terorisme di Indonesia

Penggunaan terminology Islam dan jihad sebagai landasan pembenaran atas aksi-aksi kekerasan oleh sekelompok umat Islam hampir saja menjerumuskan dunia pada teori Clash of civilization-nya Samuel P.Huntington. Jika tidak segera diatasi melalui dialog peradaban yang intensif prediksi ini akan kian mengerucut pada sikap saling curiga. Kemajuan suatu peradaban akan dianggap sebagai ancaman, bukan tantangan. Karena anggapan sebagai ancaman itu, maka persoalan akan dihadapi dengan kekerasan. Konteks ini pula yang mendorong kalangan moderat untuk terus-menerus menyelenggarakan forum-forum dialog antar tokoh agama dan pemerintahan.

Din Syamsudin menegaskan bahwa radikalisme tidak dibenarkan dalam agama. Islam tak membenarkan tindakan kekerasan tersebut yang kerap memakan korban orang-orang yang tak berdosa Baratpun kerap mencitrakan Islam sebagai teroris. Padahal, selama ini umat Islam selalu mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan sekelompok umat Islam sendiri. Din menekankan pentingnya dialog Islam-Barat. Dialog yang dilakukan harus dalam posisi yang sepandan, Tak ada pihak yang dianggap superior maupun inferior.

Teorisme adalah tindakan yang membuat rasa takut menyebar. Noordin M.Top merupakan simbol gembong teroris yang paling diincar negara (polisi) akibat ulahnya yang kerap melakukan pemboman diberbagai tempat. Namun negara pun melakukan kesalahan yang cukup fatal. negara menyebarkan rasa takut lebih massif lagi dengan mengawasi ceramah ramadhan di semua masjid Indonesia. Pengawasan ini membuat umat islam tidak leuasa membangun nuansa islam dibulan suci ini.

Mungkin tadinya strategi ini adalah skema menyerang (opensif) yang selama ini negara cukup bersabar bertahan (defensif). Namun justru kebijakan pengawasan ini secara langsung atau tidak langsung telah menyudutkan umat Islam secara keseluruhan sebagai biang terorisme. Hari-hari ini di media-media dibangun stigma bahwa para teroris yang dibunuh polisi itu dikenal oleh tetangganya sebagai orang yang ramah dan santun. Pesan politik dibalik statemen ini adalah mempropagandakan ditengah-tengah masyarakat hati-hati terhadap orang yang ramah dan santun.

Padahal budaya ramah dan santun adalah budaya yang Islami. Masalahnya adalah terkesan adanya sumber statemen tunggal itu dari tetangganya, bukan dari keluarga korban atau bahkan dari korban sendiri. Polisi main hakim sendiri dengan tidak memberikan kesempakatan pada mereka yang jadi korban untuk mengungkap argument dibalik tindakannya. Disini tampak bahwa sumber klarifikasi cuma-cuma: polisi dan tetangga itu berstatemen by desain?

Tindakan pengawasan polisi ini terlalu berlebihan, karena dapat berpotensi untuk memprovokasi umat Islam. Tindakan ini membawa ke suasana masa lalu, bagai menarik mundur sejarah cerah masa depan bangsa kemasa kelam orde baru. Cirinya mirip: umat Islam menjadi korban, media dikendalikan, militer (polisi) diperalat negara untuk kepentingan pihak tertentu.

Polisi adalah alat negara. Pertanyaannya siapakah yang mempermainkan alat ini? Tampaknya tidak baik kita berspekulasi. Yang pasti arus keluar masuk keuangan polisi harus diaudit. Karena untuk kerja pengintaian masjid-masjid selama 30 hari ramadhan tidak mungkin sudah dianggarkan APBN sebelumnya. Adakah titipan dana asing masuk ke dalam arus kas polisi. Dan adakah permainan tingkat tinggi di antara para pemegang alat negara ini? Begitu pula sketsa-sketsa wajah yang dilakukan polisi menunjukkan bahwa polisi jauh lebih kenal dimana teroris itu berada. Tapi kenapa yang tidak dibuatkan sketsanya malah menjadi korban. Lantas adakah Noordin M. Top itu? Tokoh yang by desain rekayasa?

Dalam pengembaraannya Noordin M.Top melanglang buana menebar teror. Noordin M. Top juga sebagai ketua pelaksana merangkap bagian pendanaan, penyedia bahan peledak, dan tenaga bom bunuh diri. Noordin M. Top digambarkan dengan sososk setinggi 173 senti meter, berbadan gempal, dan berkulit kuning cerah. Laki-laki Johor, Malaysia 11Agustus 1969, ini bercambang . Logat bicaranya kental Melayu. Tas kecil selalu menemaninya dalam beraktivitas. Sampai tulisan ini ditulis Noordin M.Top tetap menjadi buronan aparat nomor wahid dan masyarakat yang bisa memberi tahu keberadaannya akan mendapat kado istemewa dari aparat kepolisian berupa uang satu milyar.

Ini menunjukan bahwa kelompok Noordin M Top ini termasuk jaringan baru terorisme di Indonesia. Karena itulah pasca kematian Azhari bukanlah akhir drama terorisme di Indonesia. Aksi terorisme akan melanda negeri ini selama Israel masih bercokol dibumi Palestina dan ketidakadilan Barat terhadap dunia Islam, serta ketidakmampuan aparat menangkap otak aksi terorisme di Indonesia. Orang seperti Imam Samudra, Noordi M.Top, mendiang Azhari dan lain-lain bukan otak terorisme di Indonesia. Mereka hanyalah pelaku lapangan yang otak-otaknya ada diluar negeri dan diduga didalangi oleh Al-Qaeda

Oleh: Yudi Hermawan, S.Psi.
Staf Dept. Kajian Strategis KAMMI Pusat


Komentar
Belum ada komentar.
Anda harus login untuk memberi komentar
Login Member

Daftar | Lupa Password
Gabung di milist !