Select Menu

sponsor

sponsor
Select Menu

Favourite

Berita

Info Daerah

Gambar template oleh konradlew. Diberdayakan oleh Blogger.

Rilis Media

Opini

Internasional

Foto Gallery

Doc : KRC KAMMI Pusat





JAKARTA – KAMMI Reaksi Cepat (KRC) serukan solidaritas bantu Rohingya. Bertepatan dengan momentum Kebangkitan Nasional, gerakan mahasiswa tersebut totalitas menyuarakan aksi sosial dan kemanusiaan.


“Bulan Mei ini diharapkan menjadi bulannya bagi gerakan mahasiswa, melalui momentum Kebangkitan Nasional. KAMMI yang tidak hanya bergerak di ranah Politik yang terus menyuarakan kepentingan rakyat dan oposisi terhadap kebathilan juga bergerak di ranah lainya yaitu tentang Sosial dan Kemanusiaan”, jelas Liyuda Saputra Direktur KRC.


KAMMI melalui lembaga Taktisnya KAMMI Reaksi Cepat awal tahun ini yang juga turun di beberapa bencana di negeri ini (Longsor Banjernegara, Longsor Pangelengan, dan lainnya).


“Beberapa waktu lalu juga KRC turut andil dalam membantu Nepal melalui Galang Dana hingga saat ini juga turut serta dalam membantu warga Rohingya sejak tahun 2012 hingga saat ini dan terus berusaha menciptakan solusi terhadap warga Rohingya dan Bangladesh”, tambah Yuda


KAMMI Reaksi Cepat (KRC) melalui perwakilannya di Aceh (KRC Aceh) bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan beberapa lembaga kemanusiaan lainnya (PAHAM, MIUMI, DPU Daarut Tauhid, LAZIS NU dan lainnya) dipaparkan oleh Yuda akan membentuk sekaligus mendeklarasikan Komite Nasional Solidaritas untuk Rohingya (KNSR), Jum’at (22/05/2015)


“Untuk (mendukung) itu, kami menyerukan kepada seluruh warga Indonesia serta anggota-kader-alumni KAMMI se Indonesia dari Pengurus Komisariat, Pengurus Daerah hingga Wilayah mulai hari ini untuk turun ke jalan guna menyuarakan atas yang terjadi di Rohingya dan penggalangan dana untuk membantu meringankan beban mereka”, seru Yuda. 


Aksi demikian akan terus berlangsung hingga dari Pemerintah sudah ada pencerahan untuk membantu warga Rohingya. Seperti apa yang dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla Pemerintah akan membantu warga Rohingya dan mencari jalan keluar atas permasalahan yang terjadi.


Bantuan dana akan terus di galangkan dan disalurkan. Untuk warga Indonesia yang ingin berdonasi (bisa berupa pakaian, bahan makanan dan yang lainnya) dapat menghubungi:

Yuda Direktur Kammi Reaksi Cepat Centre (085219194444 / 24E7B95A) 
atau Perwakilannya di KRC Aceh, Agus Fajri (085277622189) dan Aceh Utara Laila (0852 60478248).

(Humas PP KAMMI)


Dok : Pengurus Pusat KAMMI

Pemerintah Wajib Melindungi Pribumi atau Revolusi Terjadi


Delapan bulan sudah Presiden Jokowi dan Wapres JK memimpin Pemerintahan Republik Indonesia. Selama delapan bulan ini, Pemerintahan Jokowi-JK telah gagal membangun fondasi yang kokoh bagi keberlanjutan Pembangunan yang Pro Kepentingan Rakyat. Rakyat yang kami maksud adalah Pribumi Indonesia. Bukan para asing-aseng dan antek-anteknya yang mengaku sebagai rakyat namun kenyataanya hanya menjadi benalu yang menghisap SDA dan merugikan Rakyat Pribumi. Kita sebagai Bangsa harus tegas mendefinisikan Rakyat Indonesia adalah Pribumi Indonesia yang mayoritas Pribumi kini semakin kesulitan.

KAMMI Mengapresiasi kebijakan dan program yang telah dilakukan oleh Pemerintahan Jokowi-JK. Namun KAMMI menilai, ukuran keberhasilan Pemerintah adalah ketika Pribumi Indonesia bisa hidup sejahtera dan bedaulat secara Ekonomi, politik, sosial, hukum dan budaya. Tanpa kesejahteraan Pribumi, seluruh Kebijakan Jokowi-JK adalah kegagalan dan penghianatan pada amanat Konstitusi UUD 1945 dan Cita-cita Kemerdekaan Indonesia.
 
Untuk itu, dalam momentuk Hari Kebangkitan Nasional 21 Mei 2015 ini, KAMMI menyuarakan kepada seluruh elemen Bangsa untuk kembali menyolidkan Persatuan dan Perjuangan kita untuk memperjuangkan Hak dan Kepentingan Pribumi sebagai Pemilik Sah Negara dan Bangsa Indonesia. KAMMI Mendesak Presiden Jokowi dan Wapres JK untuk:

1.    Jokowi-JK harus segera Berpihak dan Melindungi Rakyat Pribumi Indonesia dari Dominasi dan Ketamakan Asing-Aseng. Tidak boleh ada regulasi dan kebijakan Pemerintah yang mengkebiri kesehteraan dan usaha ekonomi Pribumi Indonesia. Jokowi-JK adalah Pemimpin Rakyat, bukan pelindung apalagi pelayan Kepentingan Asing-Aseng.

2.    Pemerintahan Jokowi-JK harus segera membuat kebijakan yang melindungi Rakyat Pribumi. Perbaiki Kinerja Pemerintah agar Kepentingan Pribumi terlindungi. Jokowi-JK adalah pihak yang paling bersalah bila kondisi kesejahteraan dan Usaha ekonomi Pribumi tidak segera membaik. Kesulitan Rakyat akibat kegaduhan global harus bisa ditanggulangi Jokowi-JK, bila tidak maka itu adalah Kegagalan Besar Jokowi-JK;

3.    KAMMI mengajak Rakyat Indonesia untuk bersama-sama melakukan Revolusi bila Pemerintahan Jokowi-JK terbukti semakin berpihak pada Asing-Aseng. Semakin mengkebiri kesejahteraan dan usaha ekonomi Pribumi Indonesia. Membela Kepentingan Pribumi Indonesia sebagai Tumpah Darah Indonesia adalah amanat Konstitusi. Inilah Revolusi Kita Saat Ini!!!


Jakarta, 21 Mei 2015
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
Andriyana
Ketua Umum


Doa Bersama dan Kontemplasi 17 Tahun Reformasi,
KAMMI Surabaya, Kamis (21/05/2015)


SURABAYA – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Surabaya gelar Do'a Bersama sebagai kontemplasi 17 Tahun Reformasi Indonesia, Kamis (21/05/2015) dini hari, bertempat di Masjid Ar-Rahmah, Surabaya.

Ketua Umum KAMMI Daerah Surabaya, Harsono, menjelaskan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi nasional yang sedang bergejolak. 

"Kami mengajak kader untuk berkontemplasi atas problematika yang terjadi di negeri ini dan mendoakan pemimpin serta masyarakat Indonesia agar senantiasa dilimpahkan rahmat oleh Allah SWT dan dijadikan negeri yang 'baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur' (red : negeri yang subur, makmur, adil, dan aman)”, tegas Harsono.

Kegiatan Do'a Bersama tersebut dilanjutkan dengan aksi longmarch KAMMI Surabaya dan PW KAMMI Jawa Timur bertajuk 'Selamatkan Kepentingan Nasional' diawali dari Tugu Bambu Runcing Surabaya.

"Aksi kami kali ini bertujuan untuk melakukan pencerdasan masyarakat, mengingatkan dan menekan presiden, serta menegaskan sikap untuk penyelamatan Indonesia atas kepemilikan asing" ungkap Decka Vertian, Ketua Kebijakan Publik Pengurus Wilayah KAMMI Jawa Timur.[ka]

Reporter : KAMMI Surabaya
Editor : Humas KAMMI Pusat


Apa yang menjadikan bangsa besar? Sama sekali bukan kedigdayaan ekonomi apalagi militernya. Bukan pula tersebab kehebatannya menaklukkan bangsa lain. Kenangan kebesaran atas sebuah bangsa ialah melalui leadership bangsa, ada pada kapasitasnya mengelola kemanusiaan. Kemanusiaan, sebuah platform lintasbangsa, mondial, universal. Siapa atau bangsa apa hebat mengelola kemanusiaan, membantu bangsa lain, dialah bangsa besar. Peluang itu sedang terhidang di halaman Tanah Air kita. 

Aceh pasca-tsunami adalah 'pesta kemanusiaan' yang menempatkan Indonesia ajang kerja penyelamatan jiwa manusia. Filantropi dunia unjuk kebaikan di tengah krisis kemanusiaan ini. Yakinlah, itu bukan kebetulan. Bangsa ini sedang ditatar menjadi bangsa besar: latihan mengelola elemen-elemen lintas bangsa dalam urusan kemanusiaan. Bangsa lain berbondong-bondong menolong pemulihan Aceh (dan Nias) pasca-tsunami. 

Ini 'buah' kebaikan Indonesia berulang kali mengirim pasukan perdamaian (Kontingan Garuda) bertahun silam. Misi memulihkan kedamaian tak boleh hilang dari bangsa ini kalau keberkahan ingin terus mengalir bagi negeri ini.

Kemudian, pekan ini bertepatan dengan medio Mei, setelah berlalu Hari Pendidikan Nasional dan menjelang Hari Kebangkitan Nasional, ratusan pencari suaka muncul di pantai Aceh Utara. Mereka mencoba peruntungan hidup. Sebagian sempat bekerja di Malaysia, lalu berbekal tabungannya kembali ke Myanmar menjemput keluarga. Malang tak dapat ditolak, ‎mereka terdampar setelah kehabisan bahan bakar dan pangan di perairan Indonesia.

Bukan kebetulan. Mereka adalah “utusan langit” yang hendak menguji bangsa kita. Akankah bangsa ini ditinggikan martabatnya sebagaimana martabat bangsa-bangsa lain yang dengan ikhlas dan sadar bersemangat menyelamatkan kehidupan, menolong manusia-manusa lain yang teraniaya? Ataukah kita menjatuhkan derajat kebangsaan dengan membiarkan kematian melenyapkan umat manusia lainnya? 

Saya bersyukur Kementerian Luar Negeri RI segera membantah kabar bahwa Indonesia menghalau pencari suaka kembali ke laut lepas. Pasti Indonesia tidak sezalim itu. Kita bangsa yang pernah sengsara dan ditolong bangsa lain, baik sebelum merdeka maupun ketika sudah menjadi NKRI. Balas budi kita tidak cukup hanya untuk negara-negara terkait, negara-negara penolong, tapi harus lebih dari itu: kepada kehidupan.

Kita tak ingin model pertolongan yang transaksional, equal, pas banderol. Karena kita bangsa besar, kita layak melakukan lebih; lakukan lebih dari yang biasa. Menolong dengan sesungguh-sungguh pertolongan. Kita tidak menolong sebatas fatsun bangsa di kawasan yang sama. Kita tidak menolong sebatas etis dan kepatutan. 

Pada diri pencari suaka itu kaum yang teraniaya, lemah tanpa daya dan kekuatan perubahan. Dalam perspektif Muslim, perubahan (kebaikan) terjadi bersama mereka yang paling lemah. Membantu yang teraniaya sama dengan menghadirkan kekuatan Yang Maha Besar. Modal hebat mendongkrak martabat bangsa, menolong bangsa/ etnik lain yang terlemah. Mengapa kalau PBB menyebut Rohingya etnik paling sengsara di dunia tak banyak pemerintah atau bangsa-bangsa di dunia mengajukan diri menjadi penolongnya?

Apakah karena faktor Myanmar "saudara se-ASEAN" kita? Kalau benar, makna persaudaraan itu perlu dihayati. Saudara yang keliru harus diselamatkan dengan diingatkan. Kalau tidak, kita membiarkan saudara kita selamanya dalam kesalahan. Kesalahan Myanmar kali ini ialah gagal menunjukkan itikadnya memelihara kehidupan. Mengusir Rohingya entah kemana dan membiarkan Rohingya menemui ajal perlahan adalah lebih kejam dari perang cepat yang segera mematikan. Beratus bahkan beribu kaum Rohingya mati di laut perlahan karena lapar, sakit, atau terhempas badai. 

Martabat Indonesia cemerlang ketika banyak jiwa bangsa lain yang hadir di halaman rumah kita dalam kondisi tak berdaya lalu kita selamatkan. Tampilan fisiknya sudah mirip, agamanya pun sama dengan mayoritas Indonesia. Kalau pun sedandainya tidak, mereka pun sama seperti kita: manusia.

Kita juga punya tanah air yang luas, yang memungkin‎kan untuk menjadi lahan penghidupan manusia di atasnya. Rohingya (dan sebagian pencari suaka Bangladesh) adalah orang-orang yang bersedia bekerja demi hidup. Mereka pejuang kehidupan yang kalau kita beri kesempatan. Bukan mustahil bangsa Indonesia memiliki alasan hebat untuk memohon keamanan dan kemakmuran bagi negerinya, ketimbang kalau kita mengabaikan pencari suaka itu. #LetsHelpRohingya!

Menutup tulisan ini, saya ceritakan sepenggal catatan saat menengok pencari suaka Rohingya dan Bangladesh ini di Aceh Utara. Hanya sedikit dari mereka bisa bicara Melayu. Lebih sedikit lagi yang berbahasa Inggris‎. Satu di antaranya, Thanbe Ahmed (20), mengaku pencari suaka dari Bangladesh. Semula ia berpikir mau ke Malaysia. Itu karena banyak yang selamat dan membangun kehidupan baru di sana. Ia belum kenal Indonesia. Ia dengar, pencari suaka di Indonesia tak bisa menetap.

“Tapi pikiran saya berubah. Indonesia is a good country. Kami disambut orang Indonesia, orang Aceh. Kami merasa aman," ungkapnya.

Baru beberapa saat di Aceh, ia sudah merasakan kehangatan bangsa Indonesia. Kebaikan Aceh adalah kebaikan Indonesia. Aceh mewakili Indonesia, menjadi etalase kemanusiaan dunia. Aceh menyambut pencari suaka itu dari kalangan orang-orang biasa, nelayan, petambak, pedagang kecil, petani, siswa-siswi, dan mahasiswa. Mereka menunjukkan kehangatannya.

Kata Rozy, relawan lokal‎ warga Lhoksukon, biasanya jam 21.00 jalanan di desa Kuala Cangkui—menuju area Tempat Pelelangan Ikan di mana pencari suaka dipusatkan—sudah sunyi.

"Tapi hari ini, pukul sepuluh malam saja masih banyak yang datang. Semua bukan cuma mau melihat-lihat. Tak ada yang datang tangan kosong. Minimal mereka berbagi uang," ungkap Rozy yang menyaksikan fenomena serupa sejak pencari suaka itu ditampung di GOR Lhoksukon. 

Tak hanya itu. Selain badan-badan dunia seperti UNHCR‎ dan IOM, media nasional maupun internasional, badan lokal seperti Dinas Sosial Aceh dengan Tagana, PMI Aceh, beberapa pejabat lokal dengan pakaian tak resmi, dan entah apalagi yang serba remang-remang karena penerangan masih terbatas malam itu. Mereka menunjukkan wajah kemanusiaannya.

Sesaat saya merasa kita terus menanjak menuju bangsa bermartabat karena memuliakan manusia dengan menyelamatkan kehidupan. Saya makin yakin pencari suaka itu baiknya kita persaudarakan dengan bangsa kita. Kita takkan pernah sengsara dengan menolong sesama manusia. 

Aksi Cepat Tanggap (ACT) adalah organisasi nirlaba profesional yang memfokuskan kerja-kerja kemanusiaan pada penanggulangan bencana mulai fase darurat sampai dengan fase pemulihan pasca-bencana. ACT selalu hadir dalam bencana, baik fase darurat (emergency) maupun fase pemulihan (recovery) dengan menggulirkan berbagai program. Program-program yang telah didedikasikan ACT, antara lain ialah Emergency Rescue, Emergency Relief, Emergency Medic, Recovery Fisik, Recovery Ekonomi, dan Recovery Sosial. Aksi kemanusiaan yang dilakukan ACT berorientasi amal (charity) dengan memberdayakan sumberdaya lokal (local sources).

Kontributor : Ahyudin (Presiden ACT)

Editor : Humas PP KAMMI