Select Menu

sponsor

sponsor
Select Menu

Favourite

Berita

Info Daerah

Gambar template oleh konradlew. Diberdayakan oleh Blogger.

Rilis Media

Opini

Internasional

Foto Gallery


JAKARTA - Persoalan dilematis negara menuntut angkatan muda untuk melakukan konsolidasi niat, strategi dan sikap tegas agar Indonesia tetap selamat dan seluruh cita-cita kemerdekaan negeri terwujud.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dengan mengusung tema “Mengokohkan Peran Kebangsaan dan Kemasyarakat KAMMI dalam Mewujudkan Cita-Cita Kemerdekaan Indonesia” akan menyelenggarakan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) KAMMI Tahun 2015 pada 18-22 Februari 2015 mendatang.

Acara yang akan diselenggarakan di Pekanbaru, Riau tersebut diikuti oleh Pengurus Pusat KAMMI, Delegasi Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah seluruh Indonesia beserta para undangan.

( Humas PP KAMMI)





JAKARTA—Baru-baru ini Indonesia Corruption Watch (ICW) membeberkan kejanggalan ihwal  penetapan harga BBM Januari 2015 dan LPG 12 kilogram. 

Seperti banyak diberitakan, ICW pada konferensi pers, Selasa (6/1/2015), di Kantor ICW, Jakarta, mengungkapkan bahwa telah terjadi mark-up atau penggelembungan harga BBM dan LPG akibat penetapan harga baru oleh pemerintah per 1 Januari 2015.

Merespons temuan itu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menyampaikan tuntutan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar tidak merampok uang rakyat melalui mark-up harga seperti itu.

Sumber gambar : bisnis.news.viva.co.id
“Tindakan pemerintah kabinet Jokowi itu menandakan bahwa kini sedang terjadi perampokan uang rakyat. Maka, KAMMI menuntut agar presiden mengembalikan uang rakyat tersebut,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat KAMMI, Andriyana.

Mengutip data perhitungan ICW, lanjut Andri, pemerintah telah melakukan penggelembungan harga premium sebesar Rp 586,33 per liter. Harga keekonomian yang seharusnya Rp 7.013,67 per liter kini malah ditetapkan menjadi Rp 7.600.

Sementara untuk BBM jenis solar, walaupun harganya turun menjadi Rp 7.250 per liter, masih ada potensi mark up mencapai Rp 909,9 miliar. Hal itu disebabkan harga keekonomiannya saat ini ialah Rp 6.607,53 per liter.

Sedangkan untuk harga keekonomian LPG 12 kg adalah Rp 9.508 per kg. Sehingga, dugaan potensi penggelembungan harga sebesar Rp 1.717 per kg atau Rp 20.600 per tabung. 

“Jika dirinci, potensi mark-up yang terjadi pada penetapan harga premium adalah Rp1,440 triliun, solar Rp 909,9 miliar, dan LPG 12 kg Rp 128,8 miliar. Total keseluruhan potensi penggelembungan harga ialah sejumlah Rp 2,479 triliun,” terang Andri.

Seperti disampaikan sebelumnya, simpul Andri, KAMMI masih dan akan terus menyampaikan suara rakyat yang sejatinya dirugikan melalui kebijakan pemerintah terkait harga BBM itu.
(Humas PP KAMMI)


JAKARTA - Belum genap 100 hari pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) berjalan, kembali pemerintah melakukan perubahan kebijakan terkait harga BBM. 

Sebagaimana diberitakan media, mulai 1 Januari 2015 ini pemerintah mengumumkan pemberian subsidi BBM hanya pada jenis tertentu, yakni minyak tanah dengan harga Rp 2.500 per liter dan solar dengan harga Rp 7.250 per liter. Adapun RON 88 (premium) meskipun tidak disubsidi, harganya diturunkan dari sebelumnya Rp 8.500 per liter menjadi Rp 7.600 per liter.

Sumber gambar : jurnalpatrolinews.com
Menyikapi kebijakan terbaru itu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) memandang, pencabutan subsidi premium adalah bentuk pelepasan harga suatu komoditas kebutuhan rakyat ke mekanisme pasar.

“Dengan melempar harga BBM ke pasar, makin kentara posisi Jokowi-JK sebagai antek neolib yang mengkhianati rakyat. Pemerintah jelas tidak pro rakyat, tetapi pro asing. Mereka memilih absen dari kewajiban memenuhi energi rakyatnya,” kata Andri.

Kebijakan tersebut, tambah Andri, bisa menyebabkan tidak mampunya pemerintah mengontrol harga kebutuhan pokok dan ongkos sarana transportasi umum. 

Dengan demikian, lanjut Andri, pemerintah bisa dibilang telah melanggar Pasal 33 UUD 1945 yang intinya menyebutkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi harus dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

“Data menyebutkan, dari jumlah konsumsi BBM sebesar 1,5 juta barel per hari, produksi BBM dalam mencapai 800 ribu barel per hari. Artinya, tidak semua BBM yang kita gunakan merupakan produk impor,” terang Andri.

Adalah tidak wajar jika melepas harga premium ke pasar yang notabene sebagian BBM itu merupakan produk dalam negeri.

Sementara itu, Ketua Humas PP KAMMI, Riyan Fajri, menengarai kebijakan terkini pemerintah tersebut sebagai tindakan untuk mendongkrak kembali citra Jokowi yang sudah mulai turun.

“Perlu diingat, harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi sudah telanjur naik akibat kenaikan harga BBM sebelumnya. Jika Jokowi punya iktikad baik dan bukan semata pencitraan, maka semestinya pemerintah melakukan normalisasi harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi yang sudah naik itu. Menurunkan harga BBM saja tidak cukup,” tukas Riyan. (na)

Humas PP KAMMI


Judul buku                  : Gerakan Keagamaan dan Perubahan Sosial :
                               Dakwah Islam dan Misi Katolik di Semarang 1890-1940
Penulis                       : Mukhamad Shokheh, MA
Penerbit                     : Kireinara
Tahun                        : Desembet 2014
Jumlah hlm         : 300 + xxiv                                                                    
Harga                        : Rp 75 rbu
Kondisi                      : Baru, segel     
                                             
Buku Gerakan Kegamaan dan Perubahan Sosial
    
                 

Buku ini ditulis oleh Mukhamad Shokheh, MA, sejarawan muda dari Universitas Negeri Semarang. Buku ini memotret pembaharuan dakwah dan pribumisasi misi di Semarang pada periode 1890an-1940an. Pembaharuan dakwah dan pribumisasi misi ini dapat dilihat ke dalam tiga tahap. Pertama, periode konsolidasi (1890an-1910an). Kedua, institusionalisasi (1910an-1930an). Ketiga, pergulatan dakwah dan misi dengan kolonialisme (1930an sampai 1940an).

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, secara bersamaan telah terjadi kebangkitan dakwah Islam dan misi Katolik. Tumbuhnya kebangkitan aktivitas misioner di kalangan umat Islam dan Katolik pada abad ke-19, dapat dilihat sebagai bentuk dinamika internal yang terjadi di kalangan kedua pemeluk agama tersebut serta respons kreatif mereka terhadap  kolonialisasi dan  modernisasi beserta dampak yang menyertainya. 

Kebangkitan dakwah Islam memperlihatkan peningkatan kegiatan agama yang signifikan di wilayah Semarang. Hal ini dapat diketahui dari berdirinya tarekat, bertambahnya jumlah masjid, peningkatan pesantren baik secara kuantitas maupun kualitas, peningkatan jumlah kitab sebagai rujukan yang meliputi berbagai ilmu, di antaranya fikih, adab, bahasa, sejarah, filsafat, tafsir, dan tasawuf.  Fenomena yang cukup menonjol dari kebangkitan dakwah Islam yang berlangsung di Semarang, memperlihatkan adanya tradisi intelektual modern yang dibangun masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat sebagai perwujudan konstruksi intelektual masyarakat dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhannya di dalam lingkungan sosial dan budayanya.

Kebangkitan aktivitas misioner di kalangan umat Katolik di Semarang dipengaruhi semangat kebangkitan misi Katolik yang berlangsung di negeri Belanda.  Kebangkitan misi Katolik  di negeri Belanda, dalam batas tertentu pengaruhnya terasa sampai Semarang. Hal ini terlihat  pada periode tahun 1871-1890, ketika misi di Semarang mengalami pertambahan personel dalam jumlah yang cukup banyak yang dibuktikan dengan kedatangan para suster dan Imam Jesuit yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.  Kondisi ini mendorong peningkatan aktivitas keberagamaan maupun kegiatan misioner di kalangan umat Katolik Semarang. 

Kondisi eksternal yang turut berpengaruh terhadap munculnya kebangkitan dakwah  Islam dan misi Katolik di antaranya adalah modernitas kolonial yang telah menggoncangkan keselarasan kehidupan sosial budaya. Kebangkitan dakwah Islam dan misi Katolik hadir dalam rangka menawarkan nilai-nilai baru dan bentuk-bentuk solidaritas baru. Faktor yang lain adalah politik keagamaan pemerintah. Pemerintah kolonial yang awalnya memusuhi misi dan hanya memberi kesempatan kepada zending untuk mewartakan Injil, pada awal abad ke-19 mulai memberikan perlindungan terhadap aktivitas misi sekaligus meletakkan landasan yang kokoh bagi berkembangnya misi. Di tengah dukungan pemerintah kolonial terhadap kerja zending dan misi, dakwah justru semakin menunjukkan eksistensinya dengan pembaharuan gerakan yang dikembangkannya pada dekade kedua abad ke-20.

Kebangkitan dakwah Islam dan misi Katolik di Semarang, memiliki sejumlah persamaan, di antaranya sama-sama menghadirkan gejala peningkatan kegiatan misioner, mengapresiasi nilai-nilai lokal, dan tidak memunculkan gerakan millinearisme.  Meskipun, keduanya memiliki pengalaman historis yang berbeda.  Kebangkitan dakwah Islam dalam prosesnya lebih menonjolkan aspek peningkatan kualitas perawatan iman (dakwah), meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa konversi keagamaan juga tetap berlangsung.  Hal ini berbeda dengan kebangkitan misi Katolik lebih menitik beratkan kepada “konversi agama, yang selanjutnya baru diikuti dengan perawatan iman”. Oleh karena itu,, pengaruh kedua fenomena di atas terhadap aktivitas dakwah dan misi juga mempunyai keunikan masing-masing. Hal ini  terlihat dari manifestasi aktivitas dakwah dan misi di lapangan. Dakwah Islam lebih menekankan kepada semangat untuk mencapai otentisitas agama serta pembaharuan strategi gerakan. Di sisi yang lain, misi menawarkan nilai-nilai baru dan melakukan ekspansi dalam berbagai bidang kekaryaan, seperti  pendidikan, kesehatan, dan sosial.  Selain itu, dalam gerakannya  terlihat bahwa tingkat ekspansi misi lebih terukur dan bisa dikuantifikasikan. Hal ini yang membedakan dengan intensifikasi dakwah Islam yang cenderung kualitatif sifatnya. 

Perkembangan dakwah Islam dan misi Katolik di Semarang pada periode 1890-an sampai dengan 1940-an tidak dapat dilepaskan dari peran tokoh-tokoh penyebar agama yang berasal dari berbagai etnis dan kelompok sosial. Aktivitas dakwah di Semarang pada periode ini dijalankan oleh orang-orang Jawa, Melayu dan bumiputra lainnya, orang-orang Koja, dan  Arab. Di kalangan misi, aktivitas pengabaran Injil dilakukan oleh orang-orang Eropa, Jawa, dan Tionghoa.

Perkembangan aktivitas dakwah Islam dan misi Katolik pada periode ini dapat dilihat kedalam dua mainstream, yaitu pembaharuan dakwah dan pribumisasi misi, yang selanjutnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan perkembangan dakwah dan misi sebagai keberlanjutan dari aktivitas dakwah Islam dan misi Katolik pada periode sebelumnya.  Pertama, periode konsolidasi yang berlangsung pada tahun 1890-an-1910-an. Periode ini segenap elemen dakwah dan misi melakukan konsolidasi melalui penataan aspek kelembagaan gerakan. Pada saat yang sama, berlangsung adaptasi karya misi bagi bumiputra. Bertambahnya jumlah personel dalam karya misi, telah mendukung bagi upaya perluasan misi, bagi bumiputra dan penataan strategi baru karya misi di wilayah ini. Tahapan kedua, institusionalisasi  pada periode  1910-an sampai dengan 1930-an. Pada periode ini, dakwah Islam mulai tampil secara institusional, yang menandai perubahan corak gerakan dakwah dari pola “komunal ke pola asosiasional” seperti terlihat dari terbentuknya gerakan Islam modern di Semarang, yaitu Sarekat Islam (SI), Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Melalui organisasi Muslim modernis dan lembaga pendidikan Islam di bawahnya, gerakan dakwah secara simultan melakukan reformulasi dan reinterpretasi Islam dalam konteks ”keindonesiaan dan kemodernan”. Pada periode ini, di kalangan umat Katolik  berlangsung peningkatan intensitas misi bagi kalangan bumiputra. Dalam konteks ini, misi menghadapi tantangan untuk menyesuaikan diri dengan realitas lokal dan tampil menggereja dengan wajah barunya.  Hal ini di antaranya diwujudkan dengan pendirian berbagai lembaga pelayanan, seperti sekolah, rumah sakit, rumah yatim, dan berbagai perkumpulan sosial keagamaan. Tahap ketiga, berlangsung tahun 1930-an sampai tahun 1940-an. Pada periode ini berlangsung pergulatan yang semakin intensif antara dakwah dan misi dengan konsep kebangsaan. Pergulatan dengan konsep negara bangsa membuka kembali kesadaran politis dan pemaknaan ulang terhadap nasionalisme secara lebih kontekstual. Sementara itu, interaksi di tingkat budaya telah memicu semangat umat Islam untuk mendialogkan Islam dengan  modernitas.  Pribumisasi misi di Semarang pada periode ini, berjalan lebih cepat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Misi Katolik di Kota Semarang sebagai bagian dari Vikariat Semarang, mulai dikondisikan sebagai wilayah misi yang mandiri. Kondisi ini mencapai momentumnya dengan pengangkatan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ sebagai uskup bumiputra pertama yang berkedudukan di Semarang. 

Dalam konteks dakwah,  pembaharuan Islam yang berlangsung sejak dekade kedua abad ke-20 memainkan peranan dalam membentuk kelompok sosial yang disebut kelas menengah Muslim. Gerakan dakwah, dalam konteks ini tidak menjadikan agama sebagai “candu“ yang membuat masyarakat teralienasi dari hiruk pikuk dunia atau sebaliknya superstruktur yang hegemonik, tetapi  dakwah tampil dengan menjadikan agama sebagai pengemban visi organis tentang realitas dan landasan bagi tata masyarakat baru. Hal ini terlihat dari pengenalan lembaga baru dan nilai kemajuan baru, melalui karya pelayanan dalam kehidupan ekonomi,sosial, politik, dan budaya. Selain itu, pengaruh aktivitas pembaharuan dakwah yang dirasakan umat Islam adalah terjadinya peningkatan kualitas keberagamaan umat Islam. Hal ini tentu saja tidak menutup kemungkinan adanya peningkatan kuantitas jumlah umat Islam. 

Pribumisasi misi dengan segenap karya besarnya, secara tidak langsung telah mendorong terjadinya kreativitas iman di kalangan Katolik, sekaligus mematahkan  asumsi publik  mengenai dampak modernisasi bagi terbentuknya sekularisasi dalam tubuh gereja. Dalam konteks ini, sekularisasi tidak begitu menonjol di Semarang, tetapi justru gereja semakin dinamis sebagai jaringan sosial yang terus bergerak menyapa berbagai segi kehidupan masyarakat. Pribumisasi misi yang berlangsung di Semarang, memiliki makna yang dapat dilihat dalam dua kecenderungan, yaitu global dan lokal. Dalam perspektif ini, pribumisasi misi semakin memperkaya keanekaan gereja semesta dan sekaligus memperkuat jati diri gereja setempat.  Perhatian misi terhadap karya karitatif di Semarang tidak dapat hanya dibaca sebagai upaya misi untuk melibatkan diri secara sosial, tetapi di balik itu terdapat motivasi untuk memperbaharui seluruh hidup gereja sebagai paguyuban apostolis. Pribumisasi misi dalam pemaknaan lokal diartikan sebagai pergeseran kerangka acuan gerejawi dari konteks Belanda menuju konteks Indonesia. Pribumisasi misi akan semakin memperluas visi supra nasional misi sekaligus memperjelas posisi misi dalam bingkai keindonesiaan. Karya misi yang semakin tumbuh dan berkembang, dengan berbagai bentuk aktivitas pelayanan dalam banyak hal memiliki korelasi dengan pertumbuhan umat Katolik. Dalam konteks Semarang, hal ini dibuktikan dengan keberadaan paroki yang terus tumbuh, dari semula hanya Paroki, Gedangan, kemudian bertambah dengan tumbuhnya paroki baru, seperti Karangpanas, Randusari, dan Atmodirono. 

Dengan demikian, dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa aktivitas dakwah Islam dan misi Katolik yang berlangsung di Kota Semarang pada periode 1890-an sampai dengan masa-masa menjelang kedatangan Jepang di Indonesia telah membawa perubahan bagi kehidupan sosial keagamaan masyarakat. Terjadi praktik keagamaan sebagai sebuah konstruksi sejarah dan sosio budaya yang terbuka, cair, serta terus berubah. Pada periode ini, mulai terlihat adanya reintepretasi ritual dalam dimensi sosial, dan terjadi transformasi dari kesalehan pribadi menjadi kesalehan sosial.  Selain itu, Masyarakat mulai mengenal organisasi keagamaan dan bentuk kepemimpinan baru yang lebih rasional dan demokratik. Aktivitas dakwah Islam dan misi Katolik yang berlangsung juga memberikan landasan bagi tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara di kalangan umatnya, yang bersinergi dengan perkembangan kesadaran kebangsaan Indonesia pada waktu yang bersamaan. Hal ini turut memberikan inspirasi bagi Indonesia dalam upayanya membangun hubungan antara agama dan negara, setelah menjadi sebuah negara merdeka.
Selamat membaca!





FLORES - Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Flores Raya telah resmi dideklarasikan, Senin (29/12/2014) kemarin.

Deklarasi yang diselenggarakan di Mushola Al-Hidayah Woloweku tersebut diresmikan oleh Sekjen PP KAMMI Ardhi Rahman, Ketua PD Nusa Tenggara Timur (NTT) beserta sekertaris, serta eks Ketua PD NTT dan Mantan Ketua PK Ende.




Dialog Kebangsaan KAMMI Jawa Timur, Gedung Pertemuan Dinas Sosial Pemprov Jawa Timur, Ahad, 28/12/2014


SURABAYA – Semakin meningkatnya persaingan di bursa tenaga kerja sebagai akibat akan diberlakukannya pasar bebas ASEAN 2015 pada akhir 2015 mendatang menjadi tantangan tersendiri bagi aktivis gerakan. Aktivis gerakan dituntut memberikan strategi pendampingan dan solusi kongkrit sebagai wujud kontribusi antisipatif dampak negatif penerapan kebijakan tersebut.

Praktisi Ekonomi Mikro Menengah, Roby Purnawirawan  dalam paparannya di Dialog Kebangsaan Gerakan Mahasiswa Menyongsong MEA 2015 KAMMI  Wilayah Jawa Timur  mengatakan bahwa kontribusi antisipatif yang bisa dilakukan adalah dengan membangun serta meningkatkan kapasitas kader.

“Pertama yang menjadi tugas aktivis gerakan mahasiswa adalah membangun kapasitas-kapasitas kader”, jelas Roby di Gedung Dinas Sosial Pemprov Jawa Timur, Minggu (28/12/2014) kemarin.

Selain itu, pihaknya menambahkan dua aspek kontribusi lain berupa konsistensi tindak kritis pada kebijakan pemerintah dan bermasyarakat.

“Tugas kedua dan ketiga, mahasiswa gerakan saat ini harus tetap kritis dengan kebijakan-kebijakan yang ada, perperan terus pada kebijakan yang berpihak pada rakyat”, lanjutnya “Yang terakhir, aktivis gerakan mahasiwa harus melakukan pendampingan masyarakat, bermasyarakat”.

Acara yang diselenggarakan dengan mengangkat tema MEA 2015 tersebut diharapkan Achmad Bukhori selaku Humas KAMMI Jawa timur menjadi salah satu jalur konsolidasi kader KAMMI se wilayah Jawa Timur dalam memberikan sikap atas pemberlakuan MEA 2015 mendatang.

“Setelah sama-sama paham tentang tugas dan tuntutan MEA, harapannya ke depan KAMMI di Jawa Timur khususnya dapat melakukan rancangan-rancangan aksi sosial sebagai bentuk tanggung jawab gerakan mahasiswa untuk kontribusi pada masyarakat”, jelas Achmad Bukhori. (ern)

Kontributor : Humas PW KAMMI Jawa Timur