Select Menu

sponsor

sponsor
Select Menu

Favourite

Berita

Info Daerah

Gambar template oleh konradlew. Diberdayakan oleh Blogger.

Rilis Media

Opini

Internasional

Foto Gallery



Penyerahan Simbolis Kepengurusan PD KAMMI Aceh Utara
Demisioner ke PD periode baru, Ahad (12/04/2015)

LHOKSEUMAWE, ACEH  – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Aceh Utara selenggarakan Pelantikan Pengurus Baru Periode 2015 - 2016. Pelantikan tersebut meresmikan Laila Khalidah, S.S.T.sebagai Ketua Pengurus Daerah (PD) KAMMI Aceh Utara, Ahad (12/04/2015) kemarin.


Pelantikan yang mengusung tema “Optimalisasi Gerakan KAMMI dalam Bersinergi dengan  Masyarakat untuk Mewujudkan Aceh Utara yang Madani” ini dihadiri oleh kader-kader KAMMI Komisariat Lhokseumawe, Komisariat UNIMAL, Komisariat STAINM, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se-Lhokseumawe Aceh Utara, serta beberapa tamu undangan dari Organisasi Kepemudaan (OKP) se-Lhokseumawe Aceh Utara. 

  
Ketua Umum PW KAMMI Aceh, Darlis Azis, S.Pdi, S.I.Kom dalam sambutannya mengharapkan Pengurus Daerah KAMMI Aceh Utara dalam kepengurusan selanjutnya diharapkan bisa lebih mengoptimalkan kembali gerakannya. Mampu menjalankan tugas dengan baik serta bekerja sama dengan semua pihak, terutama dalam upaya membangun komunikasi dan konsolidasi demi terciptanya Kabupaten Aceh Utara ke arah yang lebih baik.

Dalam orasi pembukanya, Laila mengajak  seluruh pengurus kader KAMMI Aceh Utara untuk bekerja lebih giat dan berkontribusi lebih besar untuk kemajuan pergerakan KAMMI. Pihaknya juga berharap agar kedepan keberadaan dan peran KAMMI dapat dirasakan manfaatnya secara lebih besar dan menyeluruh dalam masyarakat, seperti yang tertuang dalam tema yang diusung dalam pelantikan kali ini. 

Reporter : Renita
Editor : Ern
Cover Edisi III Arek Magazine
SURABAYA - Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jawa Timur, mendedikasikan Arek Magazine edisi III sebagai kado Milad 17 Tahun KAMMI. Selengkapnya, simak dan download file lengkapnya di site berikut http://www.kammijatim.org/


Logo Milad 17 Tahun KAMMI

SEJARAH reformasi tidak bisa dipisahkan dengan sejarah kelahiran dan fenomena Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Gerakan mahasiswa yang lahir dan dideklarasikan pada 29 Maret 1998 ini dalam usianya yang masih sangat muda telah sanggup menorehkan lembaran sejarah yang membuat siapa pun terpana dan bertanya-tanya.

Belum genap satu bulan setelah dideklarasikan, KAMMI melakukan gebrakan aksi perdananya yang mengejutkan, bertajuk “Rapat Umum Mahasiswa dan Rakyat Indonesia” di lapangan Masjid Al-Azhar, Jakarta, pada tanggal 10 April 1998, dihadiri oleh lebih dari 20 ribu orang dari berbagai kalangan, serta berjalan dengan tertib dan aman.

Menyusul aksi perdananya di Jakarta, KAMMI terus menggulirkan aksi-aksi demonstrasinya di berbagai kampus dan kota yang menjadi jaringannya. Terjadi akselerasi bobot aksi yang luar biasa, baik secara kualitas maupun kuantitas, dihitung dari masa kelahirannya dan dibandingkan dengan kelompok-kelompok aksi mahasiswa lainnya.

Sebagaiman diakui Komarudin (2004), dalam konteks aksi diplomasi, KAMMI juga mampu bermain elegan, sehingga bisa diterima oleh berbagai kalangan, sipil maupun militer. Ia mampu menempatkan diri sebagai part of solution, bukan part of problem. Dengan demikian, banyak masalah yang dapat dipecahkan atau minimal diantisipasi. Bahkan permainan cantiknya juga mampu masuk dan menggegerkan gedung MPR/DPR, sehingga aspirasi yang dibawanya memiliki bargaining power dalam kancah pergolakan politik bangsa.

Menurut Eep Saefulloah Fatah (2002), “Proses reformasi tidak bisa dipisahkan dari KAMMI. Lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan juga tidak lepas dari aksi KAMMI.”
Lebih dari itu, pada selang waktu berjalan (1998-2003), KAMMI sudah mampu melebarkan sayapnya ke berbagai kampus di seluruh Indonesia (seperti UI, IPB, ITB, Unpad, UPI, UGM, Undip, Unbraw, Unhas, Udayana, Unram, Unsri, Unila, Unimed, kampus PTAI seperti UIN, STAI dan sebagainya); bahkan belahan dunia seperti Jepang, Malaysia, Mesir, Qatar dan sebagainya. Semua itu menjadikan KAMMI sebagai aktor kekuatan reformasi yang sangat diperhitungkan, bahkan menjadi rujukan berbagai aksi pergerakan.

Pada perjalanannya sejak 2003 hingga kini, KAMMI sudah mampu melebarkan sayapnya ke hampir 400 kampus di seluruh Indonesia dan “mendelegasikan” aktivisnya untuk melanjutkan pendidikan (dalam berbagai strata) sekaligus membentuk struktur jaringan ke berbagai penjuru dunia seperti Jepang, Malaysia, Saudi Arabia, Mesir, Qatar, Turki, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, Australia dan sebagainya. Semua itu menjadikan KAMMI sebagai aktor dan kekuatan reformasi yang sangat diperhitungkan, bahkan menjadi rujukan berbagai pergerakan mahasiswa untuk beberapa negara di Asia dan Eropa (KAMMI dan Masa Depan Indonesia, 2014).


Narasi dan Agenda Gerakan KAMMI

Dalam perjalanannya, peran KAMMI dan gerakan mahasiswa lainnya termasuk dalam mendesakkan reformasi di berbagi bidang banyak menghadapi berbagai kendala dan tantangan. Secara de facto, KAMMI—sebagaimana gerakan mahasiswa yang lain—telah berkontribusi dalam upaya mendesak perubahan di belantika nusantara pasca reformasi ini. Namun demikian setelah usianya 17 tahun, KAMMI perlu melakukan evaluasi fundamental pergerakan yang selama ini telah dikembangkan.

Dalam merefleksikan usia 17 tahun (29 Maret 1998-29 Maret 2015) dan konteks menatap masa depannya, maka KAMMI selayaknya perlu membangun narasi dengan menyukseskan secara mendesak beberapa agenda gerakan, pertama, dalam konteks gerakan kemahasiswaan, KAMMI harus memperkuat kembali basis massanya, yakni kampus. Ada dua strategi yang perlu dikembangkan, yakni ekspansi kampus dan penguatan kompetensi kadernya.

Kedua, dalam konteks kebangsaan, KAMMI harus mengarahkan tren kebangsaan pada cita-cita bangsa dan negara yang beradab. Ada dua strategi yang perlu dikembangkan, yakni penguatan konten issue KAMMI dalam bidang kenegaraan dan wawasan kebangsaan, kemudian perluasan komunikasi dan jaringan dengan berbagai elemen strategis bangsa.

Ketiga, dalam konteks keummatan, KAMMI harus mampu mengkombinasikan ide-ide keislaman secara global dengan lokal keindonesiaan. Kombinasi ini harus disertai dengan penguatan jaringan sesama elemen gerakan atau Ormas Islam baik di level nasional maupun di kancah global. Sehingga KAMMI benar-benar mampu memahami Islam dalam bingkai nalar yang kombinatif: melangkit dan membumi. 

Keempat, pasca reformasi ini tampaknya KAMMI perlu berani menetapkan tren yang akan dibangun sekarang dan di masa yang akan datang. Berbicara tren gerakan mahasiswa ke depan memang bersifat unpredictable, di samping itu perlu dilakukan penelitian mendalam. Namun fenomena yang terjadi sekarang terkadang hasil penelitian kerap kali berubah cepat seiring dengan perubahan global yang demikian cepat juga. Karena itu dalam posisi dan situasi seperti ini yang perlu dikedepankan adalah keberanian mengajukan narasi gerakan untuk membuat setting tren gerakan (trend setter) baru di era 2015-an dan untuk era selanjutnya.

Menurut Rijalul Imam (2012), “tren gerakan mahasiswa ke depan yang perlu dibangun oleh KAMMI yaitu mengkombinasi antar gerakan mahasiswa: berbasis riset, berbasis kompetensi dan bermental interpreneur.”

Apa yang digariskan oleh penulis buku “Menyiapkan Momentum” (2008) tersebut sebetulnya hendak menegaskan bahwa riset menjadi penting dalam rangka mengembalikan jati diri mahasiswa sebagai insan intelektual. Sedangkan kompetensi menjadi penting dalam rangka mengokohkan kepribadian mahasiswa sebagai pemimpin muda yang siap berkiprah di masyarakat sesuai bidang kompetensinya.

Mental interprenuer harus dibangun sebagai titik temu antara capaian ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan. Titik temunya adalah pembentukkan karakter kepemimpinan yang mandiri, bertanggung jawab, siap mengambil risiko, siap bekerjasama, berkemauan keras, belajar keras dan bekerja cerdas, serta berbagai nilai-nilai positif lainnya. Interpreneur di sini diterjemahkan sebagai pembentukkan mental pemimpin yang berorientasi pada nilai (values).

Kalau ditelisik, tren gerakan riset dan kompetensi pada hakikatnya adalah tren yang menyatukan elemen-elemen bangsa di aras pengetahuan. Karena perbedaan selalu dapat diselesaikan dalam titik temu pengetahuan. Gairah tren gerakan riset dan kompetensi juga akan menjadi progresif dengan membuka jaringan internasional di bidang riset dan pengembangan kapasitas pengalaman kader di kancah internasional.

Kemajuan bangsa-bangsa di dunia pada dasarnya karena mereka bertumpu pada kualitas Brain Drain Circulation (sirkulasi orang-orang cerdas di dunia). India telah memulai sejarah reserve brain drain (menarik orang-orang cerdasnya di luar negeri) yang sebelumnya India lebih banyak mengekspor orang-orang cerdas ke luar negeri yang kemudian berdampak pada keterpurukan negaranya. Namun kini, ketika infrastruktur negaranya sudah disiapkan, dan orang-orang cerdas itu ditarik ke dalam negeri, India semakin melesat ke level global dengan sangat kompetitif.

Indonesia perlu mencontoh hal ini. Yang perlu dicontoh adalah memberikan pengalaman internasional pada kaum muda cerdas untuk belajar dan berkiprah di luar negeri dan segera menariknya untuk membangun bangsanya sendiri. Dan, lagi-lagi dalam konteks ini KAMMI perlu melanjutkan agendanya selama ini: pendelegasian kader ke berbagai universitas di seluruh dunia; baik ke Timur (Asia dan Afrika) maupun ke Barat (Amerika, Eropa dan Australia). 

Sederhananya, KAMMI harus melakukan objektifikasi nilai-nilai gerakannya dalam public reason (logika umum) yang dapat diterima secara luas. Dalam koridor—yang dalam bahasa Kuntowijoyo (2004)—“teks” dan “konteks” inilah KAMMI dapat mengembangkan pola-pola pergerakan yang lebih kreatif dan kontributif bagi solusi persoalan bangsa yang dihadapi bersama dengan tidak meninggalkan karakter gerakannya sebagai gerakan rasional-progresif berbasis kampus.

Akhirnya, sungguh Indonesia butuh generasi yang siap berkiprah: membuat sejarah perubahan terus berlanjut hingga negeri ini menemukan takdir sejarahnya sebagai negara maju dan berperadaban. Semoga KAMMI semakin kontributif, karena memang sudah saatnya bagi KAMMI mewujudkan kiprah-kiprah barunya bagi bangsa juga kemanusiaan. Selamat ulang tahun ke-17 KAMMI!


[Oleh: Uum Heroyati, S.Pd.I—Alumni Ponpes Al-Ishlah Compreng-Subang (Asuhan KH. Ushfuri Ansari), Alumni IAIN SNJ Cirebon (Angkatan 2004), Pengurus Daerah KAMMI Cirebon (Periode 2006-2008), Pengajar di SDIT Sabilul Huda Cirebon-Jawa Barat, Penulis buku Menuju Indonesia yang Beradab, dan Redaksi Penerbit Mitra Pemuda]


Foto menkumham dalam rapat kerja dengan komisi iii dpr

 
JAKARTA—Menanggapi beberapa keputusan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly yang kerap menimbulkan kontroversial, Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) turut menyayangkan dan melayangkan kritik keras.

Sebagaimana diketahui, tidak hanya sekali saja sepak terjang Menkumham itu mendapat sorota. Mulai dari ikut andil dalam kisruh PPP dan partai Golkar, hingga yang terbaru ialah ihwal rencana memberi remisi para narapidana korupsi. Terkait rencana remisi, kritikan disampaikan oleh banyak pihak, bahkan termasuk dari dalam tubuh Koalisi Indonesia Hebat
(KIH) sendiri.

“Apa yang dilakukan oleh Menkumham ini sarat akan kepentingan dan muatan politis, bahkan tidak berlandaskan hukum sama sekali. Jelas-jelas remisi sangat bertentangan dengan semangat pemberantasan korupsi yang digelorakan oleh Presiden Jokowi dalam program Nawa Cita-nya,” kata Ketua Departemen Humas PP KAMMI Riyan Fajri.

Dalam 9 program atau Nawa Cita Jokowi-JK itu, terang Riyan, disebutkan pada poin kedua  (Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya) dan poin keempat (Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya).

Riyan meyakini, kebijakan remisi terhadap koruptor sangat tidak disukai publik dan cenderung mengurangi kepercayaan publik kepada pemerintahan Jokowi-JK.

“Jika sudah bertentangan dengan semangat Jokowi, lalu mengapa ide ini digelontorkan oleh Menkumham? Alasan logisnya, mungkin itu demi kepentingan politis atau transaksional saja,” ujarnya.

Riyan menambahkan, kinerja buruk Yasonna Laoly sebagai menjadi Menkumham menambah deret negatif pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang mengusungnya setelah sebelumnya partai itu disebut-sebut sebagai partai terkorup berdasarkan survei ICW pada 2012 hingga 2014.

“KAMMI tidak ingin adanya kebijakan-kebijakan bodoh yang dilakukan oleh menteri-menteri tidak jelas. Jika masih ada menteri seperti yang itu, layaknya dicopot saja,” tegas Riyan.

Belum setahun Kabinet “Kerja” Jokowi–JK melaksanakan tugas, Riyan menilai, beberapa kementerian mendapatkan sorotan publik yang merasa tidak puas. Adapun Kementerian Hukum dan HAM, dalam pandangan KAMMI, merupakan kementerian paling tidak jelas kinerjanya. Oleh karena itu, simpul Riyan, KAMMI menuntut agar Jokowi mampu mengevaluasi kinerja kabinetnya, khususnya Menkumham yang sangat perlu direshuffle.

Humas PP KAMMI
sumber gambar : tribunnews.com 
Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS)



JAKARTA — Isu Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) kembali merebak setelah tak lama kisruh Pemilihan Pilpres (Pilpres) 2014 sempat mencuat. Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) meyakini, modus di balik hebohnya isu tersebut di Indonesia hanyalah sebuah “komoditas dagang”.
“KAMMI meyakini sejak awal bahwa mencuatnya isu ISIS tidak lain adalah kepentingan oknum tertentu guna kepentingan politiknya semata. KAMMI menghimbau masyarakat tidak perlu khawatir dan jangan terprovokasi lalu terbawa arus. ISIS itu hoax, hanya mainan oknum untuk cari perhatian dan cari jabatan,” kata Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP KAMMI, Sofyardi Rahmat.
Tindakan teror memang tidak dapat dibenarkan karena tidak jauh berbeda dengan penjajahan. Perang terhadap terorisme juga penting dilakukan. Namun demikian, lanjut Sofyardi, kita perlu memerhatikan siapa yang bermain dan memanfaatkan isu terkait di tanah air.
Oleh karena itu, tambahnya, KAMMI mendorong Jokowi untuk mewaspadai oknum-oknum di balik layar yang mengendalikan isu tersebut. KAMMI meyakini bahwa Jokowi selaku kepala negara akan mengedepankan kepentingan nasional di atas segalanya.
Selain itu, Sofyardi mengatakan, pengetahuan masyarakat sudah mulai mampu memahami permasalahan bangsa ini. Sehingga, isu dan berita yang menyebar melalui media “bodong” di masyarakat tidak begitu saja ditelan mentah-mentah.
“Memang isu ISIS yang punya skala global ini bukan isu kecil, bukan isu sektoral yang hanya ada di negara tertentu saja. Artinya, peran asing dibaliknya bisa jadi ada. Namun, saya meyakini masyarakat sekarang pintar-pintar,” ujar Sofyardi.
KAMMI sebagai gerakan kebangsaan akan terus mengawal bangsa ini menjadi bangsa yang maju. Untuk itu, KAMMI akan selalu mengingatkan para pemimpin bangsa ini agar tak lupa janji dan tugasnya: memerhatikan keadaan sosial masyarakat serta menjadi penyambung lidah wong cilik.
Humas PP KAMMI
sumber gambar: abcnews.com